Manusiasenayan.idPersoalan sampah di Kota Sungai Penuh, Jambi, makin hari makin bikin geleng kepala. Kota yang ada di ujung barat Jambi ini sebenernya dikenal adem, hijau, dan cantik. Tapi sayangnya, urusan sampah masih jadi PR besar yang belum kelar sampai sekarang. Bahkan, masalah ini sudah sampai bikin Anggota DPR RI Rocky Chandra ikut turun tangan dan minta Pemerintah Pusat ikut cawe-cawe.

Menurut Rocky, urusan pengelolaan sampah jangan melulu fokus ke kota besar. Kota kecil juga butuh perhatian serius, karena dampaknya sama: lingkungan rusak, kesehatan warga terancam.

“Pengelolaan sampah ini harusnya bukan cuma buat kota besar. Kota kecil seperti Sungai Penuh juga harus diperhatikan, karena kondisinya sudah mengkhawatirkan,” kata Rocky.

Rocky blak-blakan bilang, masalah utama di Sungai Penuh adalah minimnya anggaran daerah. Dengan APBD yang kecil, Pemkot jelas kesulitan membangun sistem pengelolaan sampah yang layak. Mulai dari keterbatasan TPA, fasilitas pengolahan yang minim, sampai sistem yang belum rapi, semuanya numpuk jadi satu masalah besar.

“Jangan sampai persoalan begini dibiarkan berlarut-larut. Saya bahkan sudah mengajukan proposal ke Kemen-LHK supaya pemerintah pusat bisa ikut turun tangan,” tegas Rocky.

Sebagai anggota Komisi XII DPR RI, Rocky menilai persoalan sampah ini bukan sekadar soal estetika kota. Ini sudah menyangkut kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan masa depan daerah. Kalau dibiarkan, dampaknya bisa panjang dan susah dibereskan.

“Kota Sungai Penuh ini kecil tapi indah. Jangan sampai rusak cuma karena sampah nggak keurus,” ujarnya.

Rocky juga menekankan pentingnya sinergi pusat, provinsi, dan daerah. Menurutnya, penanganan sampah nggak bisa setengah-setengah atau sementara. Harus ada dukungan infrastruktur, pendampingan teknis, regulasi yang kuat, dan pengawasan serius dari pusat.

Di sisi lain, Wali Kota Sungai Penuh Alvin mengapresiasi langkah Rocky yang kembali menyuarakan aspirasi daerah ke Senayan. Alvin mengaku, Pemkot sudah lama mengusulkan bantuan alat pengolah sampah skala besar ke Kemen-LHK, tapi masih menunggu persetujuan.

“Kita butuh alat yang bisa mengolah 10 sampai 20 ton sampah per hari, khususnya sampah plastik,” kata Alvin.

Saat ini, mayoritas sampah di Sungai Penuh memang didominasi plastik, dan itu jadi tantangan besar. Meski APBD terbatas, Pemkot tetap berusaha. Salah satunya dengan membangun TPST di Desa Renah Kayu Embuh dan menghadirkan 24 TPS3R berbasis masyarakat, meski belum semuanya berjalan maksimal.

Selain itu, Pemkot juga mendorong bank sampah agar warga ikut terlibat langsung. Hasilnya memang belum sempurna, tapi setidaknya bisa ngurangin volume sampah harian.

Intinya, Sungai Penuh lagi butuh kehadiran negara secara nyata. Kota kecil boleh, tapi hak atas lingkungan bersih dan sehat tetap harus jadi prioritas. Jangan nunggu krisis makin parah baru semua ribut.