ManusiaSenayan.id – Kalau dengar kata “masa depan”, yang kebayang biasanya teknologi canggih, kerja fleksibel, ekonomi digital, atau hidup serba otomatis. Jarang banget ada yang langsung mikir soal pangan. Padahal, sesibuk apa pun kita ngomongin masa depan, satu hal ini gak bisa diskip: semua orang tetap butuh makan.
Di tengah obrolan itu, Badikenita Putri Beru Sitepu, anggota DPD RI dari Sumatera Utara, datang dengan narasi yang kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya krusial: bertani itu bukan masa lalu. Bertani adalah masa depan.
Siapa Badikenita dan kenapa suaranya relevan
Badikenita Putri Beru Sitepu, atau yang sering dikenal sebagai Badikenita Br. Sitepu, lahir di Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada 27 Juni 1975. Ia menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara, lalu melanjutkan hingga meraih gelar doktor bidang ekonomi di Universitas Indonesia.
Di Pemilu 2024, Badikenita kembali dipercaya masyarakat Sumut untuk duduk di DPD RI dengan raihan 553.752 suara, menempatkannya di jajaran empat besar senator terpilih dari provinsi ini. Saat ini, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Komite II DPD RI, komite yang banyak membahas isu ekonomi daerah, sumber daya alam, dan tentu saja, pangan.
Dengan latar belakang itu, wajar kalau isu pertanian dan ketahanan pangan jadi “main concern”-nya. Ini bukan topik tempelan, tapi isu yang memang ia pahami dari akar.
Bertani bukan nostalgia, tapi strategi
Badikenita tumbuh di wilayah yang hidup dari pertanian. Jadi, ketika ia bicara soal pangan, itu bukan sekadar materi rapat. Ia paham betul bahwa bertani itu bukan cuma soal menanam dan panen, tapi juga soal ketidakpastian harga, distribusi yang ribet, dan posisi petani yang sering kali kalah kuat dalam sistem.
Makanya, ia berulang kali menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak boleh berhenti sebagai jargon. Kalau cuma jadi slogan, setiap ada krisis—entah cuaca ekstrem, distribusi macet, atau harga melonjak—yang kena dampaknya tetap masyarakat.
Di titik ini, Badikenita mengajak semua pihak untuk berhenti melihat pertanian sebagai sektor “jadul”. Menurutnya, bertani justru harus diposisikan sebagai strategi jangka panjang, bukan romantisme masa lalu.
Tantangan paling nyata: siapa yang mau jadi petani?
Salah satu hal yang paling sering ia soroti adalah regenerasi petani. Faktanya, usia petani di Indonesia terus menua, sementara anak muda makin menjauh dari sektor ini. Bertani keburu dicap berat, kurang keren, dan dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi.
Badikenita melihat ini sebagai alarm serius. Bukan karena lahan akan hilang, tapi karena orang yang mau mengelola pangan makin sedikit. Solusinya, menurut dia, bukan menyuruh anak muda “kembali ke sawah” dengan cara lama, tapi mengubah cara bertani itu sendiri.
Pertanian harus terhubung dengan teknologi, pasar, dan sistem yang lebih modern. Kalau bertani bisa memberi penghidupan yang layak dan ruang berkembang, stigma “bertani itu masa lalu” akan runtuh dengan sendirinya.
Pangan itu soal sistem, bukan cuma panen
Dalam banyak diskusi, Badikenita juga menekankan bahwa pangan tidak berhenti di sawah. Produksi boleh cukup, tapi kalau distribusinya lambat atau tidak merata, hasilnya tetap sama: harga naik, masyarakat resah.
Inilah kenapa ia sering bicara soal tata kelola pangan secara menyeluruh. Dari hulu ke hilir, dari petani sampai konsumen. Menurutnya, ketahanan pangan baru bisa disebut kuat kalau sistemnya adil—petani tidak dirugikan, dan masyarakat tetap bisa mengakses pangan dengan harga wajar.
Perempuan dan pangan saling terkait
Sebagai perempuan di panggung politik nasional, Badikenita juga menaruh perhatian besar pada peran perempuan dalam ketahanan pangan. Ia mendorong agar kebijakan tidak berhenti di simbol, tapi benar-benar memberi akses pelatihan, keterampilan, dan teknologi—terutama bagi perempuan di desa.
Baginya, perempuan bukan hanya pendamping, tapi aktor penting dalam ekonomi keluarga dan pengelolaan pangan. Kalau perempuan diberdayakan, efeknya langsung terasa di tingkat rumah tangga dan komunitas.
Menaruh pangan di posisi yang seharusnya
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, Badikenita memilih fokus pada hal yang paling mendasar. Pesannya jelas: tanpa pangan yang kuat, masa depan apa pun gampang goyah.
Bertani bukan cerita masa lalu. Ia adalah fondasi masa depan. Dan lewat perannya di DPD RI, Badikenita sedang berusaha memastikan bahwa isu pangan tidak lagi dipinggirkan, tapi ditempatkan di posisi strategis yang memang layak.
Karena se-canggih apa pun dunia nanti, satu hal tidak akan berubah: kita semua tetap butuh makan.
