Manusiasenayan.id – Buku memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings lagi-lagi bikin publik berhenti scroll. Cerita personalnya sebagai penyintas child grooming bukan cuma viral di media sosial—tembus 23 juta klik—tapi juga nyampe ke Senayan. Iya, DPR RI ikut bahas.
Keberanian Aurelie buka luka lama ternyata nggak berhenti sebagai curhat personal. Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, sampai menyinggung langsung kasus ini dalam rapat kerja bareng Komnas HAM dan Komnas Perempuan. Misinya jelas: biar kasus kekerasan seksual ke anak dan perempuan nggak lagi dipelintir atau disepelekan.
“Yang paling bikin aku kaget, buku aku sampai dibahas di DPR. Harapannya supaya kasus kayak aku dulu nggak diabaikan lagi, dan perlindungan buat anak serta perempuan bisa ditangani lebih serius,” kata Aurelie.
Buat Aurelie, ramainya Broken Strings bukan soal pamor. Yang dia kejar adalah perubahan sistem. Terutama soal regulasi hukum yang selama ini sering bikin korban justru takut buka suara.
“Aku berharap viralnya buku ini bikin aturan lebih melindungi korban. Jangan kayak aku dulu, mau cari perlindungan malah ditakut-takuti dengan ancaman dihukum balik,” tegasnya.
Yang bikin makin nyesek, menurut Aurelie, adalah fakta bahwa pihak yang diduga terlibat justru masih bebas tampil di ruang publik. Bahkan, terkesan kayak sedang menormalisasi praktik child grooming.
“Beliau (Rieke) juga ngerasa nggak terima, karena pihak yang merasa terkait malah kayak melakukan endorsement atau normalisasi child grooming di media,” jelas Aurelie.
Perhatian negara buat Aurelie adalah sinyal penting. Artinya, kisah ini nggak berhenti sebagai cerita trauma, tapi berubah jadi alarm sosial.
“Kalau buku aku bikin orang lebih paham soal child grooming, orang tua jadi lebih waspada, berarti pesan aku nyampe. Masa lalu aku nggak sia-sia,” pungkasnya.
Bukti Baru Mulai Bermunculan
Plot twist-nya belum selesai. Setelah bukunya viral, Aurelie mengaku menemukan bukti baru yang bisa membuka lagi jalur hukum. Dulu, ia sempat menyerah karena dianggap nggak punya bukti kuat.
“Dulu aku mau proses hukum sama orang tua aku, tapi dibilang bukti aku nggak cukup kuat karena nggak ada video dan lain-lain,” cerita Aurelie.
Tanpa bukti konkret, Aurelie yang masih sangat muda kala itu merasa nggak punya daya lawan. Tapi sekarang situasinya berubah. Netizen dan pembaca justru jadi jembatan keadilan.
“Sejak buku aku keluar, ada beberapa orang yang kontak aku dan ngasih bukti-bukti yang sebelumnya aku nggak punya,” bebernya.
Buat Aurelie, ini bukan kebetulan. Ini tanda bahwa keadilan bisa datang meski telat, asal terus diperjuangkan.
“Mungkin ini pertanda. Tapi tujuan utama aku nulis buku ini tetap sama: ngajak perubahan,” tutupnya.
Satu hal jadi jelas: ketika korban berani bicara dan negara mau dengar, isu child grooming nggak lagi bisa disapu ke kolong meja. Senayan dengar, publik bergerak. Tinggal satu pertanyaan: hukum siap menyusul atau nggak?
