ManusiaSenayan.id – Bayangin, beberapa tahun lalu ada cewek muda yang kerjaannya lari-lari di lapangan, pegang mikrofon, ngejar narasumber di tengah kerumunan, terus baca script berita di depan kamera. Sekarang, nama yang sama ada di papan nama ruang rapat Senayan sebagai anggota DPD RI. Dari orang yang biasanya mewawancarai politisi, jadi orang yang ikut nentuin arah kebijakan. Itu dia Cherish Harriette Mokoagow.
Di umur kelahiran 14 September 1995, ketika banyak teman seangkatannya baru mapan kerja atau masih “coba-coba karier”, Cherish sudah dua periode duduk sebagai senator dari Sulawesi Utara. Perdananya di Pemilu 2019, dia langsung jadi peraih suara terbanyak DPD Sulut dengan 180.224 suara. Di Pemilu 2024, suaranya malah naik, tembus sekitar 188–234 ribuan suara menurut berbagai hitung dan rekap, dan tetap lolos sebagai satu dari empat senator Sulut.
Akar BMR dan Koneksi Keluarga
Cherish lahir di Manado dan tumbuh sebagai bagian dari identitas Bolaang Mongondow Raya (BMR). Media lokal sering nyebut dia “jagoan warga BMR” yang sukses bawa nama daerah sampai Senayan. Bukan cuma soal tempat lahir, tapi juga soal keluarga.
Sejak lahir, Cherish langsung diasuh dan dijadikan anak angkat oleh politisi senior BMR, Yasti Soepredjo Mokoagow, yang kemudian dikenal sebagai bupati Bolaang Mongondow dan anggota DPR RI. Ia tumbuh di bawah asuhan Yasti dan ibunya, Suryani (Suri) Soepredjo. Jadi, kalau sekarang publik ngeliat “duet” Yasti di DPR dan Cherish di DPD sebagai dua srikandi BMR di Senayan, itu memang ikatan keluarga dan perjalanan panjang, bukan sekadar gimmick politik.
Tahun 2021, Cherish menikah dengan Anggit Kurniawan Nasution dan kini sudah dikaruniai dua anak. Di tengah kesibukan politik, identitasnya sebagai ibu muda ini sering juga kebawa dalam cara dia ngomong soal masa depan dan generasi berikutnya.
Sekolah: Dari Manado Sampai London
Jalur pendidikan Cherish kelihatan banget “ngebentuk” dia jadi sosok yang luwes di dunia komunikasi. Setelah sekolah dasar dan menengah di Manado, ia melanjutkan ke jenjang tinggi di bidang komunikasi dan marketing.
Selanjutnya, ia ambil Diploma Advertising & Marketing Communication di Unisadhuguna International College (2013–2015), lanjut program pra-sarjana di University of California, Los Angeles (UCLA), lalu Bachelor of Arts (Hons) Mass Communication/Media Studies di Northumbria University (2015–2016), dan diselesaikan dengan MBA International Marketing di Coventry University, London (2016–2017).
Jadi waktu dia ngomong soal citra, narasi, dan cara komunikasi politik, itu bukan sekadar “feeling”. Background akademiknya memang kuat banget di komunikasi dan pemasaran internasional.
Karier: Dari Reporter TV ke Senator
Sebelum duduk di kursi senator, Cherish merintis karier sebagai wartawan televisi. Dalam daftar riwayat hidup resminya di MPR dan KPU, pekerjaannya tercatat sebagai Reporter CNN Indonesia, sebelum kemudian menjadi anggota DPD RI.
Hidup sebagai reporter bikin dia kebiasa banget dengan ritme cepat: bangun isu dari nol, ngecek fakta, ngejar pejabat buat doorstop, sampai merangkum persoalan ribet jadi paket berita dua menit. Dari situ, kepekaan politiknya kebentuk bukan dari teori, tapi dari lapangan. Dia ngeliat sendiri gimana satu kebijakan bisa bikin orang di akar rumput senang, marah, atau kecewa.
Nah, di titik tertentu, peran “cuma meliput” itu terasa kurang. Ia pengin nggak sekadar memotret keputusan, tapi juga punya ruang untuk ikut memengaruhi keputusan. Dari situlah langkah nekat maju DPD RI di Pemilu 2019 muncul. Hasilnya langsung fenomental: peraih suara terbanyak DPD Sulut, unggul dari banyak nama senior.
Kerja di Senayan: Komite I dan Isu Daerah
Di DPD, Cherish duduk di Komite I yang ngebahas hal-hal “serius banget” kayak pemerintahan daerah, otonomi daerah, desa, dan penataan wilayah. Hal yang paling kentara dari kiprahnya adalah konsistensi bawa isu BMR dan Sulawesi Utara ke meja nasional.
Ia vokal soal pemekaran Provinsi Bolaang Mongondow Raya dan sempat menegaskan bahwa kalau diberi amanah lagi, fokus utamanya adalah perjuangan BMR sebagai daerah otonom baru. Ia juga ikut dalam pembahasan UU Desa, masa jabatan kepala desa, hingga soal jaminan hari tua dan status perangkat desa, yang langsung bersentuhan dengan kehidupan desa-desa di Sulut.
Buat warga BMR, kehadiran Cherish di DPD bikin mereka ngerasa lebih “punya orang dalam”. Bukan cuma sebagai simbol, tapi sebagai orang yang beneran duduk di forum resmi dan bisa ngomong langsung soal kebutuhan daerah.
Anak Muda dan Politik
Kehadiran Cherish juga menambah warna di ruang yang selama ini identik dengan figur senior. Lahir di era 90-an, ia tumbuh dalam kultur digital dan terbiasa menggunakan media sosial. Di linimasa, ia tidak hanya mengunggah foto rapat, tetapi menjelaskan apa yang dibahas dan mengapa itu penting bagi warga Sulawesi Utara.
Bagi banyak anak muda, gaya seperti ini membuat politik terasa lebih dekat dan tidak selalu kaku. Mereka melihat bahwa kursi di Senayan tidak hanya bisa diisi nama-nama yang jauh secara usia, tetapi juga oleh figur yang tumbuh di generasi yang sama.
Cerita yang Terus Berjalan
Transformasi Cherish dari wartawan menjadi senator membawa konsekuensi besar. Jika dulu ia berada di posisi yang mengawasi, kini setiap langkahnya justru diawasi. Janji yang pernah diucapkan, sikap yang pernah ia ambil, dan kebijakan yang ia dukung akan terus diuji. Pengalaman pernah berdiri di sisi yang mengajukan pertanyaan kritis menjadi kompas agar ia tidak lupa mengoreksi diri ketika berada di dalam kekuasaan.
Kisah Cherish Harriette Mokoagow adalah cerita tentang keberanian melompati garis antara liputan dan legislasi. Ia menunjukkan bahwa jalan menuju ruang pengambilan keputusan tidak harus berangkat dari dinasti politik atau pakem lama. Pengalaman memahami realitas masyarakat, terbiasa mendengar, dan terlatih bercerita bisa menjadi modal politik yang kuat bagi generasi yang memilih turun langsung ke gelanggang.
