ManusiaSenayan.id – Kalau kamu bayangin politisi itu lahirnya dari panggung debat atau warisan keluarga, cerita dr. Gamal Albinsaid beda jalur. Ini tipe orang yang awalnya nongkrongnya bukan di ruang rapat elit, tapi di gang-gang kampung, ngeliatin dua reality check yang nyebelin banget: warga miskin sakit tapi nahan berobat karena duit, sementara sampah rumah tangga numpuk jadi bom waktu kesehatan. Dari situ dia kepikiran sesuatu yang kedengarannya kocak tapi ternyata visionary: “Kalau sampah bikin orang sakit, kenapa nggak sekalian dipakai buat bikin orang sehat?”
Gamal lahir di Kepanjen, Malang, 8 September 1989. Dia kuliah kedokteran di Universitas Brawijaya, lanjut S2 Ilmu Biomedik di kampus yang sama. Jadi jelas ya, ini bukan “influencer dadakan” yang lompat ke publik tanpa basis. Bahkan sebelum masuk politik, dia udah punya exposure international lewat Sustainability Leadership Cambridge Programme, semacam program leadership soal sustainability di Cambridge. Jadi dari muda, cara mikirnya udah global tapi kakinya tetap di problem lokal.
Klinik Asuransi Sampah: ide yang awalnya “hah serius?” jadi “loh kok bisa kepikiran”
Lahirnya Garbage Clinical Insurance (GCI) alias Klinik Asuransi Sampah itu bukan proyek iseng. Konsepnya micro health insurance, tapi cara bayarnya nyeleneh: warga bisa “nabung” sampah yang udah dipilah, terus nilainya jadi premi asuransi buat akses layanan kesehatan. Jadi orang yang biasanya ke-block karena biaya, bisa kontrol kesehatan lebih rutin. Di saat yang sama, kampung jadi lebih bersih, kebiasaan pilah sampah jalan, dan risiko penyakit karena lingkungan kotor ikut turun. Dua masalah yang tadinya kayak beda planet, ditackle sekaligus.
Ini yang bikin dr. Gamal relatable buat Gen Z: dia nggak cuma ngeluh soal sistem, tapi bikin sistem tandingan yang jalan di lapangan.
Diakui dunia: “oke ini bukan gimmick”
GCI ga berhenti jadi cerita inspiratif lokal. Inovasi ini sampai ke Inggris dan bikin Gamal diganjar penghargaan dari Universitas Cambridge lewat jejaring program sustainability (sering diliput pada 2014 sebagai award wirausaha muda berkelanjutan). Intinya, dunia ngeliat idenya valid: ini solusi kesehatan sekaligus lingkungan yang scalable.
Masuk PKS, lanjut ke DPR: naik level arena
Tahun 2020 Gamal gabung PKS, partai yang waktu itu memang lagi buka karpet buat figur muda potensial.
Fast forward ke Pemilu 2024, dia maju di Dapil Jawa Timur V (Malang Raya) dan tembus DPR RI dengan 110.385 suara. Itu angka gede, dan ngebuktiin dia bukan “numpang tenar,” tapi beneran punya basis kepercayaan warga.
Mulai 1 Oktober 2024, dr. Gamal resmi jadi anggota DPR RI Fraksi PKS periode 2024–2029.
Di Senayan ngapain?
Sekarang dia duduk di Komisi X DPR RI, yang mainnya di pendidikan, kebudayaan, pemuda-olahraga, riset, dan statistik.
Yang dia dorong di sini tuh nyambung banget sama napas lamanya: perubahan dari hulu. Dia ngomong soal transformasi pendidikan yang beneran berdampak, bukan sekadar ganti kurikulum doang. Dia juga vokal soal wajib belajar 13 tahun dan penguatan PAUD, karena menurut dia fondasi hidup itu start-nya dari kecil.
Isu lain yang sering dia angkat adalah kesejahteraan guru, terutama honorer. Buatnya simpel: gimana mau minta pendidikan naik level kalau guru-gurunya hidup di level “survival mode”?
Walau bukan di komisi kesehatan, background dokter bikin dia tetap bawa kacamata kesehatan ke kebijakan. Dia nyorot tantangan triple burden disease dan pentingnya preventif dari awal, dan pendidikan adalah salah satu pintu preventif paling besar.
Kenapa ceritanya kena di generasi sekarang?
Karena dr. Gamal itu contoh jalur “impact dulu, jabatan belakangan.” Dia mulai dari masalah paling basic yang dia lihat sendiri, bikin solusi yang bisa disentuh orang nyata, diakui dunia, terus masuk sistem biar perubahan nggak mentok di satu kampung doang. Klinik sampah bukan sekadar kisah masa lalu yang manis, tapi blueprint cara dia mikir: kalau ada problem publik, cari celah kreatif buat ngubahnya jadi sesuatu yang fair dan bermartabat.
Sekarang blueprint itu lagi diuji di tempat yang jauh lebih rame dan keras: Senayan. Dan kita lihat bareng-bareng, sejauh mana “energi klinik sampah” bisa jadi energi kebijakan nasional.
