ManusiaSenayan.id – Industri Indonesia lagi kayak orang lari maraton tapi jalannya nanjak terus: ngos-ngosan. Salah satu penyebabnya adalah harga gas industri yang masih tinggi, dan hal ini disorot serius oleh Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, saat kunjungan kerja ke Cikarang, Rabu (27/11/2025).
Hendry bilang terang-terangan bahwa kondisi ini nggak bisa dibiarkan kalau Indonesia mau tetap berdaya saing. Ia menyampaikan, “Terkait dengan gas yang untuk industri itu masih sangat tinggi. Ini barangkali perlu ada upaya untuk memberikan insentif khusus. Berbentuk regulasi yang bisa jadi kita akan persiapkan nanti dalam Panja Daya Saing Industri). Untuk kemudian kita upayakan agar betul-betul bisa berdaya saing.”
Ibaratnya, industri butuh “boost” biar bisa sprint, bukan cuma jogging sambil ngeluh capek.
Komisi VII sendiri lagi ngulik banyak hal lewat Panja Daya Saing Industri: mulai dari dukungan fiskal, fasilitas kawasan berikat, sampai kebijakan yang bisa bikin ekspor makin pede dan impor nggak merajalela. Intinya: Indonesia jangan sampai kalah meta sama negara lain.
Pemerintah sebenarnya udah ngeluarin skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk tujuh sektor industri. Tapi banyak pelaku usaha ngerasa skema ini masih kurang fleksibel. Kayak langganan streaming yang katanya “no ads” tapi tahu-tahu muncul iklan dadakan.
Lebih ribetnya lagi, industri cuma dapat sekitar 60% pasokan dengan harga HGBT. Sisanya tetap harus beli harga normal. Ya jelas kerasa berat di ongkos produksi.
Makanya, Hendry dorong supaya RUU Kawasan Industri nanti ngatur insentif gas tambahan buat perusahaan di kawasan industri. Ia menegaskan, “Agar ada insentif khusus untuk gas industri. Karena beberapa kawasan industri di berbagai negara itu memang sudah sangat efisien dengan harga yang sangat murah.”
Kesannya simple, tapi efeknya besar: kalau gas makin terjangkau, industri lokal bisa gaspol, bukan sekadar bertahan hidup sambil berharap nggak kena overheat.
Kalau mau, saya juga bisa tandai versi khusus untuk headline, lead, dan closing saja agar lebih rapi untuk kebutuhan redaksi.
