Manusiasenayan.id – Kalau biasanya ngomongin kerja ke luar negeri identik sama ribet dan mahal, kali ini ceritanya agak beda. Kementerian Sosial RI alias Kemensos lagi buka jalur baru yang bisa dibilang cukup realistis buat warga yang butuh peluang kerja—khususnya buat mereka yang selama ini masuk kategori penerima bantuan sosial.
Bareng Regiono Group dari Jepang, Kemensos lagi nyiapin program buat melatih calon tenaga caregiver. Targetnya? Lulusan Sekolah Rakyat dan masyarakat dari keluarga prasejahtera. Jadi bukan cuma dikasih bantuan, tapi juga diarahkan buat naik kelas.
Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, bilang kalau program ini bukan sekadar proyek coba-coba. Mereka pengin bikin kerja sama yang strategis dan berkelanjutan. Intinya simpel: dilatih dulu, baru diberangkatkan ke Jepang buat kerja.
“Kita siapkan dari awal, dari keluarga kurang mampu, kita latih jadi caregiver, dan harapannya ini jadi kerja sama permanen,” kira-kira begitu vibe-nya.
Buat yang belum familiar, Regiono Group ini bukan pemain baru. Mereka bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, termasuk urusan perawatan lansia dan anak-anak di wilayah Fukuyama dan Hiroshima. Jadi kebutuhan tenaga caregiver di sana memang real, bukan gimmick.
Yang menarik, program ini juga nyambung ke misi besar Kemensos soal graduasi bansos—alias bikin penerima bantuan bisa mandiri secara ekonomi. Jadi bukan sekadar nerima bantuan terus-terusan, tapi dikasih jalan buat punya penghasilan tetap.
Nah, dari sisi teknis, Supomo selaku Dirjen Rehabilitasi Sosial bilang kalau Sekolah Rakyat udah mulai disusun dengan kurikulum yang lebih siap kerja. Artinya, siswa nggak cuma belajar teori, tapi juga diasah skill yang bisa langsung dipakai di dunia kerja.
Bahkan, di tahap akhir pendidikan, siswa yang nggak mau lanjut kuliah bisa langsung diarahkan ke jalur kerja sebagai caregiver. Jadi begitu lulus, mereka udah punya tiket buat berangkat ke Jepang.
Kemensos juga nggak jalan sendirian. Mereka berencana gandeng Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia biar skema kerja samanya makin rapi dan aman. Logikanya sederhana: makin banyak stakeholder, makin besar peluang yang kebuka.
Dari pihak Jepang sendiri, CEO Regiono Group, Nakashima Yasuharu, bilang kalau dalam beberapa tahun ke depan mereka butuh sekitar 400 caregiver. Jam kerjanya standar: 5 hari seminggu, 8 jam per hari, ditempatkan di panti sosial untuk anak-anak dan lansia.
Menariknya, mereka juga ngaku kalau tenaga kerja dari Indonesia itu ngebantu banget. Jadi ini bukan cuma peluang buat Indonesia, tapi juga solusi buat Jepang yang lagi kekurangan tenaga perawat.
Singkatnya, ini bukan sekadar program—ini jalur nyata buat ubah nasib. Tinggal siapin skill, mental, dan keberanian buat berangkat.
