ManusiaSenayan.id Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) tuh sebenarnya udah lama digadang-gadang buat jadi “bestie” UMKM. Tapi kata Anggota BAKN DPR RI, Eka Widodo, realitanya masih belum seindah itu. Pas kunjungan kerja di Pangkal Pinang, beliau ngomong blak-blakan,

“Serapan akses KUR di level bawah masih sangat terbatas. Padahal merekalah yang paling membutuhkan, meski program ini sudah berjalan lebih dari dua dekade, berbagai persoalan masih terus muncul, terutama pada level usaha kecil seperti tukang bakso, tambal ban, dan pedagang keliling.”

Artinya? Yang paling butuh justru sering paling susah akses. Ironi vibes banget.

Belum selesai, muncul lagi tantangan baru: pinjol. Yang satu ini akses mudah banget, tinggal isi data—beres. Tapi bunganya? Bisa bikin mental goyah. Makanya Eka sampai wanti-wanti,

“Karena kemudahan akses pinjol, KUR mulai kurang peminat. Padahal bunga pinjol itu sangat tinggi, bahkan perusahaan besar saja mungkin tidak mau. Masyarakat kecil yang sedang merintis usaha bisa terjerat.”

Bahaya banget kalau dibiarkan, soalnya UMKM bisa malah makin susah nafas. Eka bilang negara harus turun tangan serius supaya masyarakat kecil nggak keseret arus pinjaman berbunga tinggi. Ia memastikan,

“BAKN DPR RI akan lebih konsen mengawal tata kelola KUR, khususnya pada sistem yang dikelola Kementerian Keuangan dan Komite Kebijakan Pembiayaan UMKM.”

Kalau KUR bisa tepat sasaran, hidup UMKM bakal jauh lebih gampang. Eka bilang, “Kalau KUR tepat sasaran, dunia usaha sektor menengah bawah akan tumbuh. Serapan tenaga kerja juga naik, sesuai program prioritas Presiden.”

Sementara itu, khusus BSI, Eka ngasih update juga: “Kuota nasional BSI itu sekitar 17 triliun. Per Oktober 2025 baru terserap sekitar 10 triliun. Masih ada 7 triliun lagi dalam waktu dua bulan ini tantangan besar bagi BSI.”

Soal ASN yang sempat lolos nerima KUR, itu gara-gara data negara belum rapi. Eka terang-terangan bilang, “Data belum tersentralisasi. Ada data A di Dukcapil, data B di BKN, jadi tidak nyambung. Inilah sebabnya ASN bisa lolos menerima KUR.”

Intinya: KUR harus lebih gesit, lebih ramah, dan lebih mudah. Jangan sampai kalah vibes sama pinjol. UMKM butuh support, bukan beban.