ManusiaSenayan.id – Kalau senang nonton sinetron Senayan, kamu mungkin ngeliat Dailami Firdaus cuma sebagai senator tenang berkaca mata—tapi percayalah, di balik itu ada sosok yang selalu bawa rasa kampung halaman ke gedung tinggi ibu kota.
1. Majelis Kaum Betawi: Biar Suara Budaya Lokal Masuk Revisi UU
Dailami, yang akrab dipanggil “Bang Dai”, bukan sekadar senator biasa. Ia memastikan agar frasa “Majelis Kaum Betawi” masuk dalam draf RUU Pemerintahan Daerah Khusus Jakarta. Ini bukan cuma soal simbol, tapi representasi nyata dari akar budaya dalam aturan formal pemerintah.
2. Kopi Time Bareng DPRD: Bukan Rapat, Cuma Ngopi dan Curhat Ide
Bang Dai paham banget kalau ide brilian kadang justru lahir di momen santai. Dia mendorong adanya Coffee Time bareng anggota DPRD dan Pemprov, yang bikin diskusi tetap cair dan produktif. Ini membuktikan kalau senator juga bisa asyik — bukan cuma serius terus!
3. Ketika Senator Turun Tangan: Sorot Penolakan Hijab di RS
Bang Dai nggak cuma peduli soal budaya Betawi, tapi juga soal keadilan beragama. Ia mengecam keras kebijakan yang mewajibkan anggota Paskibraka Muslimah mencopot jilbab. Menurutnya, ini jelas melanggar nilai toleransi dan keadilan.
4. Hak KTKI Terabaikan? Dongkol, Bang Dai Langsung Angkat Bicara
Saat ada tenaga kesehatan KTKI yang di-PHK secara sepihak, Dailami segera bertindak. Ia pastikan isu ini diangkat ke Komite DPD III, Ombudsman, dan Komnas HAM. Ia juga tekankan bahwa kemanusiaan harus tetap didahulukan—bukan sekadar prosedur.
5. Pariwisata Merata: Gak Cuma Jawa, Kalimantan & Papua Juga Penting
Pada Raker Komite III DPD bareng Menteri Pariwisata, Dailami menegaskan agar pembangunan wisata gak cuma fokus ke Pulau Jawa. Ia dorong potensi Kalimantan dan Papua untuk dikembangkan agar tumbuh secara merata.
Inspirasinya:
Bayangin senator yang rapatnya biasa aja, justru jadi sosok yang “nggak kehilangan akar budaya”—selalu membawa suara lokal ke ranah nasional. Dari inisiatif budaya Betawi, kece-in toleransi beragama, sampai memperjuangkan kesejahteraan nakes—Bang Dai paham gimana cara ngejalanin politik humanis, dekat rakyat, dan penuh karakter.
