ManusiaSenayan.id – Wacana pilkada kepala daerah dipilih lewat DPRD lagi-lagi muncul dan langsung bikin suasana politik kayak kolom komentar: rame, panas, tapi semua merasa paling benar. Ceritanya, usulan ini kebawa dari Rapimnas Golkar 2025.
Intinya: “Gimana kalau kepala daerah dipilih wakil rakyat aja?”
Dan boom—8 parpol di DPR langsung ngeluarin stance masing-masing.
Golkar jadi yang paling duluan “angkat tangan”. Mereka mendorong pilkada lewat DPRD plus ide “koalisi permanen”. Bahasa simpelnya: biar nggak tiap pemilu hubungan politiknya kayak HTS—pas butuh bareng, habis itu bubar.
PAN ikut setuju, tapi versi “setuju bersyarat”. Mereka oke asal semua parpol kompak dan nggak bikin publik meledak. Karena kalau ujungnya demo besar, niat merapikan sistem malah jadi festival pro-kontra.
PDIP tampil sebagai “tim jangan mundur”. Mereka menolak keras. Logikanya: kalau hak pilih langsung sudah dikasih ke rakyat, jangan diambil lagi. Ibarat fitur “skip ads” udah aktif, masa tiba-tiba balik jadi nonton iklan 2 menit?
Gerindra mendukung dengan alasan yang relatable: biaya pilkada langsung mahal. Mereka bilang dana triliunan itu bisa dialihkan buat hal lebih produktif. Alias, jangan sampai APBD habis buat poster senyum lebar yang kita juga nggak kenal.
NasDem juga setuju-ish, dengan tone konstitusional: pilkada lewat DPRD itu sah dan bisa tetap demokratis, asal partisipasi dan kontrol publik nggak hilang. Jadi bukan “demokrasi dimatikan”, tapi “di-upgrade”—katanya.
PKB udah dari dulu di kubu mendukung. Cak Imin bilang pilkada langsung mahal dan rawan kecurangan, plus aparatur belum tentu netral. Intinya: pengin sistem yang lebih rapi dan minim drama.
PKS masih mode “kita kaji dulu ya”. Belum memutuskan, karena mau cari mana yang paling maslahat. Mereka kayak teman kelompok yang baru muncul pas deadline: “Ini udah pada fix belum?”
Demokrat memilih satu barisan dengan Presiden Prabowo. Mereka bilang dua sistem sama-sama sah, tapi masih perlu pendalaman—bahkan sempat singgung ide survei rakyat.
