Manusiasenayan.id – Nama Dini Rahmania mungkin nggak datang dari panggung politik yang ribut. Tapi jalurnya jelas: administrasi negara, manajemen, lalu kerja sosial. Kombinasi yang bikin gaya politiknya cenderung tenang, rapi, dan berbasis tata kelola.
Lahir di Semarang, 23 November 1986, Dini punya latar akademik yang cukup linear dengan kerja-kerja kebijakan. Ia menempuh Ilmu Administrasi Negara di Universitas Airlangga (2004–2010)—kampus yang dikenal kuat di isu birokrasi dan kebijakan publik. Bertahun kemudian, ia melengkapi bekalnya dengan Magister Manajemen dari Universitas Ciputra (2021–2023). Dari urusan negara sampai manajemen organisasi, spektrumnya komplet.
Di luar parlemen, Dini bukan figur yang asing dengan dunia usaha. Ia tercatat sebagai Komisaris PT Salamah Amal Mulia sejak 2011 dan Direktur CV Birrul Walidain sejak 2017. Pengalaman ini bikin perspektifnya soal ekonomi dan sosial relatif praktis dan membumi—nggak cuma bicara regulasi, tapi juga keberlanjutan usaha dan dampaknya ke masyarakat.
Masuk ke politik lewat Partai NasDem, Dini mewakili Dapil Jawa Timur II sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029. Di internal partai, ia juga aktif memimpin basis perempuan sebagai Ketua Garda Wanita Nasional Demokrat (Garnita) DPD Kabupaten Probolinggo sejak 2023. Peran ini menegaskan posisinya sebagai penggerak isu perempuan dan keluarga, bukan sekadar pelengkap struktur.
Di parlemen, Dini Rahmania duduk di Komisi VIII DPR RI—komisi yang ngurus agama, sosial, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan kebencanaan. Isu-isu yang jarang viral, tapi langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu, ia juga terlibat di beberapa Panitia Khusus (Pansus), ruang kerja yang biasanya menuntut ketelitian dan stamina kebijakan.
Gaya Dini di Senayan cenderung low profile tapi fungsional. Nggak banyak gimmick, tapi konsisten di wilayah kerja yang sering dianggap “sunyi”—padahal justru krusial buat ketahanan sosial.
Dini Rahmania bukan politisi yang kejar sorotan. Ia lebih pas disebut manajer isu sosial—yang percaya perubahan itu datang dari tata kelola yang rapi, keberpihakan yang jelas, dan kerja yang sabar.
Di politik yang sering fokus ke panggung besar,
figur seperti Dini ngingetin satu hal:
urusan sosial butuh orang yang mau ngurus detail, bukan cuma headline.
Nggak selalu ramai.
Tapi dampaknya langsung ke kehidupan warga.
