ManusiaSenayan.id — Internet lagi panas banget! Sejak tayangan Xpose Uncensored Trans7 soal Pondok Pesantren Lirboyo viral, tagar #BoikotTrans7 langsung jadi trending. Bukan karena keren, tapi karena banyak yang ngerasa tayangannya nggak sopan dan malah ngelecehin kehidupan santri.
Bayangin aja, segmennya berjudul: “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”
Netizen langsung pada ngegas, “Lho, ini maksudnya apaan sih?”
Nah, Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanulhaq juga ikut buka suara. Beliau bilang, “Tayangan itu bukan hanya bersifat tendensius untuk memojokkan institusi pesantren, namun juga merupakan karya jurnalistik yang berkualitas rendah dan tidak mendidik.”
Menurutnya, tayangan itu kayak “drama sensasi” ketimbang liputan serius. “Trans7 mengambil cuplikan-cuplikan footage, lalu menggunakannya tanpa menjelaskan konteks dan situasi. Gambar-gambar itu diframing dengan narasi a la infotainment yang mengedepankan sensasi, bukan kebenaran dan fakta lapangan,” jelas Maman.
Beliau juga ngingetin, pesantren itu tempat belajar, bukan konten lucu-lucuan. “Pesantren bukan hiburan. Pesantren didirikan untuk mendidik, terutama anak-anak miskin yang orang tuanya berpenghasilan seadanya,” tegasnya.
Tapi Maman nggak menutup diri sama kritik, asal disampaikan dengan niat baik. “Kami tidak anti kritik. Namun sampaikanlah dengan cara-cara yang baik, agar kita semua sama-sama memperbaiki diri,” tambahnya.
Makanya, Maman minta KPI segera turun tangan. “Saya mendesak KPI agar memanggil, memeriksa, dan menyetop sementara program Xpose,” ujarnya.
Beliau juga ngajak Dewan Pers buat ikut turun biar kasus ini beres secara profesional. Soalnya, kata Maman, “damage dari tayangan Xpose itu sudah beredar luas di media sosial.”
Intinya, pesantren itu tempat ngaji, bukan bahan gosip. Jadi yuk, media juga harus ngaji etika jurnalistik dulu sebelum tayangin konten yang sensitif.
