ManusiaSenayan.id – Kalau dengar nama “Paloh”, banyak orang langsung mikir ke tokoh media besar, politik nasional, dan tentu — Partai NasDem. Tapi di balik nama besar itu, ada sosok muda yang kini pelan tapi pasti membangun jejaknya sendiri: Prananda Surya Paloh.
Lahir di Singapura pada 21 September 1988, Prananda tumbuh di lingkungan yang serba mapan dan penuh ekspektasi. Ia sekolah di beberapa institusi elit dunia — dari Sekolah Pelita Harapan, United World College, hingga Monash University di Australia. Tapi yang menarik, bukannya berlama-lama menikmati hidup sebagai “anak bos”, Prananda justru memilih jalur yang jauh lebih rumit: politik dan rakyat.
Dari Elite ke Akar Rumput
Bagi banyak orang, politik mungkin identik dengan panggung kekuasaan. Tapi buat Prananda, politik adalah soal turun tangan. Sejak masuk ke Partai NasDem, ia aktif di Garda Pemuda NasDem, organisasi sayap yang jadi wadah anak muda untuk bergerak. Ia turun langsung dalam aksi sosial, program pendidikan, hingga kegiatan lingkungan seperti penanaman 700 pohon dan aksi bersih pantai lewat PSP Foundation.
Lewat PSP Foundation, Prananda menyalurkan beasiswa pendidikan untuk ribuan pelajar di Sumatera Utara. Tak sekadar bagi-bagi bantuan, ia hadir dalam kegiatan itu, ngobrol dengan siswa, mendengar cerita mereka — sebuah gestur yang menunjukkan sisi “rakyat banget” dari sosok yang sering dicap sebagai putra mahkota.
Politik yang Lembut tapi Tegas
Gaya Prananda di panggung politik sering disebut “slow motion” — bicaranya pelan, penuh jeda, tapi kalimatnya padat dan diplomatis. Ia bukan tipe politisi yang berapi-api atau suka headline. Tapi di balik ketenangannya, ada ketegasan: ia memimpin Garda Pemuda NasDem dengan gaya low profile, high impact, dan menegaskan dukungan penuh kepada pemerintahan Prabowo Subianto tanpa harus ikut berebut kursi kekuasaan.
Di DPR, Prananda berfokus pada Komisi I, yang menangani isu pertahanan, komunikasi, dan hubungan luar negeri — bidang strategis tapi jarang jadi sorotan publik. Ia membawa perspektif anak muda yang melek teknologi dan global, tapi tetap berpijak pada nasionalisme dan kesejahteraan rakyat.
Cinta Rakyat, Bukan Sekadar Retorika
Dalam banyak kunjungan dapil, Prananda kerap hadir tanpa formalitas besar. Ia lebih suka mendengar keluhan warga Medan, petani di Serdang Bedagai, atau pemuda yang ingin membuka usaha. Bagi Prananda, cinta rakyat bukan slogan, tapi cara kerja. Ia ingin menunjukkan bahwa politisi muda bisa serius bekerja tanpa kehilangan empati.
Mewarisi Nama, Menulis Kisah Sendiri
Sebagai anak dari Surya Paloh, tentu label “putra mahkota” tak bisa dihindari. Tapi Prananda tampaknya tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang itu. Ia justru berusaha menulis kisahnya sendiri — seorang pemuda yang mewarisi nama besar, tapi ingin membuktikan bahwa darah biru politik pun bisa mengalir ke akar rumput.
Di tengah banyaknya politisi yang sibuk membangun citra, Prananda memilih membangun hubungan — dengan pemuda, warga, dan alam. Ia tak menolak warisan, tapi berusaha mengisinya dengan makna baru: bahwa menjadi putra mahkota bukan soal memegang tahta, tapi soal menjaga hati rakyat.
Kalau langkah ini terus ia jaga, bukan mustahil suatu hari nanti, Prananda akan dikenal bukan hanya sebagai “anak Surya Paloh” — tapi sebagai Prananda Surya Paloh: putra mahkota yang benar-benar mencintai rakyatnya.
