ManusiaSenayan.id – Dulu, kalau denger kata “anggota DPD”, yang kebayang seringnya sosok politisi senior. Sekarang, pemandangannya pelan-pelan berubah. Di barisan senator, ada satu nama dari Jogja yang lagi jadi bahan obrolan banyak orang: R.A. Yashinta Sekarwangi Mega, anggota DPD RI Dapil DIY periode 2024–2029 dan salah satu senator termuda dari Yogyakarta.
Di usia masih akhir 20-an, dia sudah duduk di kursi Senayan, ikut nentuin arah kebijakan dari daerah yang kita kenal sebagai Daerah Istimewa. Keistimewaan itu sekarang bukan cuma soal keraton dan budaya, tapi juga soal siapa yang mewakili Jogja di level nasional.
Lahir dari Keistimewaan, Tumbuh dengan Kegelisahan
Yashinta lahir 25 Agustus 1996. Dari garis ibu, dia adalah canggah Sri Sultan Hamengkubuwono VIII lewat Raden Ayu Kartika Primartanti. Dari garis ayah, dia putri politisi PDIP Aria Bima, yang sudah lama wara-wiri di DPR RI. Jadi, dari kecil dunia politik dan keraton bukan hal asing buat dia.
Tapi langkahnya ke DPD bukan sekadar “nerusin” karier orang tua. Di berbagai kesempatan, Yashinta cerita kalau kegelisahannya soal isu sosial di Jogja — soal keamanan, soal masa depan anak muda, soal keadilan buat perempuan dan anak — yang bikin dia ngerasa: udah nggak cukup cuma komentar dari jauh, harus ikut turun tangan.
Kampus, Organisasi, dan Cara Pandangnya Kebentuk
Jauh sebelum namanya ada di kertas suara, hidupnya udah akrab sama dunia kampus dan organisasi. Yashinta kuliah S1 Hubungan Internasional di UGM, lalu lanjut S2 Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia. Bukan jalur yang main-main, tapi yang bikin beda adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia bukan tipe mahasiswa yang muncul pas absen dan ujian doang. Di kampus, Yashinta aktif di organisasi seperti GMNI, Dema FISIPOL, komunitas HI, MUN, sampai kegiatan sosial dan kerelawanan. Dari situ pelan-pelan kebentuk cara pandangnya: politik itu bukan cuma soal debat di TV atau rapat di gedung parlemen, tapi nyangkut banget sama kehidupan orang biasa di daerah — dari harga bahan pokok sampai akses pendidikan dan kesehatan.
Pengalaman itu yang bikin ketika ngomong soal “keistimewaan” Jogja, dia nggak cuma nyebut simbol budaya, tapi juga realitas warga: apakah mereka merasa aman, sejahtera, dan punya ruang berkembang?
Dari Festival Musik ke Kursi Senator
Masuk tahun politik, nama Yashinta makin sering muncul di media lokal. Salah satu momen yang bikin dia makin dikenal adalah “Ya Ya Yashinta Fest 2024” di Sleman, sebuah festival musik dan UMKM yang dia gagas. Di permukaan, kelihatannya cuma event seru buat nongkrong, denger musik, dan belanja produk lokal. Tapi di balik itu, ada pesan yang dia sisipkan.
Lewat festival itu, Yashinta pengin nunjukin kalau anak muda bisa terlibat dalam politik dengan cara yang relate: lewat musik, kreativitas, dan ekonomi kreatif. Di panggung, dia nggak cuma say hi lalu menghilang, tapi ngomong serius soal kekerasan terhadap perempuan, klitih, dan KDRT, sambil ngajak penonton buat peduli dan berani bersuara.
Kerja Serius di Komite IV
Setelah resmi dilantik, Yashinta ditempatkan di Komite IV DPD RI. Ini komite yang ngurus hal-hal yang buat banyak orang terdengar “berat”: keuangan negara, APBN, perimbangan pusat–daerah, dan investasi. Di titik ini kelihatan, label “anak muda” nggak menghalangi dia buat masuk ke area kebijakan yang kompleks.
Dalam salah satu rapat kerja bareng Wakil Menteri Investasi, Yashinta nyorotin posisi DIY dalam peta investasi nasional. Menurutnya, ekonomi Jogja unik: kuat di jasa, pariwisata, dan ekonomi kreatif, tapi di sisi lain punya tantangan serius soal mahal dan terbatasnya lahan yang bikin alih fungsi lahan pertanian makin sering terjadi.
Dia dorong pendekatan investasi yang berbasis potensi daerah, bukan sekadar template kebijakan yang diaplikasikan sama ke semua wilayah. Buat Jogja, kata dia, ngomongin hilirisasi itu bukan cuma soal sumber daya alam, tapi juga soal jasa, pengetahuan, dan kreativitas warganya.
Isu-isu Dekat Warga: Dari Pinjol sampai Keamanan Jalanan
Di luar ruang sidang resmi, Yashinta sering muncul di forum-forum diskusi dan media lokal. Salah satu isu yang dia sorot adalah pinjol ilegal yang nyerang banyak keluarga dan anak muda. Dia dorong lembaga terkait buat nggak cuma tegas menindak, tapi juga serius ngerjain edukasi keuangan sampai level paling bawah.
Gaya pendekatan yang dia pakai cukup khas: nyampurin data dengan kearifan lokal. Edukasi soal pinjol, misalnya, nggak cuma lewat seminar formal, tapi juga bisa lewat jalur RT/RW, arisan, dan ruang-ruang komunal yang udah akrab di masyarakat Jogja. Cara ngobrolnya pun dibuat cair, pakai bahasa yang bisa dipahami orang tua dan anak muda sekaligus.
Soal keamanan jalanan, terutama fenomena kekerasan anak muda yang bikin nama Jogja sering diseret-seret, Yashinta juga cukup vokal. Buat dia, Jogja bukan GTA dan nggak boleh dinormalisasi sebagai kota yang identik dengan kekerasan jalanan. Keistimewaan, menurutnya, juga soal bagaimana warga bisa pulang dengan aman tanpa rasa waswas.
Yashinta di Mata Anak Muda Jogja
Buat banyak anak muda, Yashinta itu kombinasi yang unik. Di satu sisi, dia punya darah biru keraton dan adalah anak dari seorang politisi nasional. Di sisi lain, dia justru sering turun ke publik ngomongin hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: mulai dari UMR, isu klitih dan keamanan jalanan, kasus KDRT dan kekerasan seksual, sampai ekonomi kreatif, pinjol, dan judol yang sering nyangkut ke generasi muda.
Sebagai senator muda dari Keistimewaan Jogja, Yashinta lagi ada di fase pembuktian: apakah generasi yang selama ini paling rame di timeline dan media sosial bisa benar-benar mengubah arah kebijakan dari dalam lembaga negara. Setidaknya satu hal sudah kelihatan jelas: di antara deretan kursi senator yang dulu identik dengan nama-nama senior, sekarang ada satu nama baru dari generasi kita sendiri — Yashinta, senator muda dari keistimewaan Jogja.
